Rabu, 24 Desember 2014

Aceh dalam Diorama

Tulisan ini terinspirasi dari lagu Diorama,  dari album berjudul Tulus.

Diorama yang diciptakan sekaligus dibawakan oleh Tulus, bercerita tentang sepasang kekasih yang hanya bisa menyesal karena tidak bisa berbuat lebih baik. Sebelum semuanya terlambat dan tidak berakhir bahagia.

Belakangan saya “engeh” kalau lagu ini mirip sekali seperti Aceh. Tempat dimana manusia menikmati kemewahan, tetapi sesungguhnya kondisi itu membeku seperti adegan dalam diorama.

KBBI pada alamat http://kbbi.web.id/diorama menuliskan: di·o·ra·ma n 1 sajian pemandangan dl ukuran kecil yg dilengkapi dng patung dan perincian lingkungan spt aslinya serta dipadukan dng latar yg berwarna alami; pola atau corak tiga dimensi suatu adegan atau pemandangan yg dihasilkan dng menempatkan objek dan tokoh di depan latar belakang dng perspektif yg sebenarnya sehingga dapat menggambarkan keadaan yg sebenarnya; 2 pameran spesimen satwa liar atau pemandangan dl ukuran aslinya yg dilengkapi dng lingkungan alam asli dan latar yg bercat.

Setiap pojok Aceh berisi cerita sendiri. Dikumpulkan dari sketsa yang terjadi di Aceh dalam kurun waktu tertentu. Semua dibahasakan menurut kehendak pemilik mulut. Bergantung pada pengalaman dan pengetahuannya. Yang memiliki pengalaman pribadi bisa jadi menambah bumbu pada ceritanya. Apalagi yang mengulang cerita orang, mungkin bumbunya lebih kompleks. Bisa mengubah inti cerita menjadi cerita baru, bahkan merusak cerita.

Diulang dalam seminar, buku, tulisan, dialog, obrolan warung kopi, gambar, film, bahkan lawak.

Pernah saya saya keluar rumah jam 08.00 WIB.  Hampir semua orang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Tidak sabar menunggu lama di lampu merah. Menerobos lampu merah dan mendahului lampu hijau. Melanggar rambu dilarang memutar. Yang terakhir ini saya pernah melakukan.

Semangat bekerja merasuki saya juga. Walaupun tujuan saya keluar bukan untuk bekerja. Geliat masyarakat aceh mencari rupiah mewarnai permulaan hari saya. Oke ini bisa jadi satu hal positif di Aceh.

Dimana ini terjadi? Hanya dipusat kota. Menepi sedikit di kawasan Batoh. Sudah mulai lengang. Kawasan ketapang semakin sepi. Toko-toko belum dibuka. Jalanan plong. Orang masih sempat menelpon sambil berkendaraan. Santai seperti di pantai .

Wajah Aceh berhenti pada ;
Pakai bendera apa? Bulan bintang atau Kerajaan Aceh.

Wajah Aceh berhenti pada ;
Hati-hati ada WH dimana-mana.

Setelah program BRR NAD Nias “Build Back Better” selesai, kita tidak lagi melihat milestone terpampang di papan reklame dalam kota. Menutup iklan rokok dan pesan sponsor lainnya. Sehingga rakyat bisa melihat, mengevaluasi, terlibat. Semua tersimpan dalam laci. Dibuka ketika masa audit telah tiba.

Banjir kembali datang. Bayangkan kalau sungai belum sempat digali, perbaikan drainase belum sempat diselesaikan. Soft component seperti larangan membuang sampah sembarangan, himbauan minimalisir penggunaan plastik, manajemen tata kelola hutan, sangat relevan dilanjutkan. Mungkin bisa dipertimbangkan melanjutkan proyek Moratorium Logging dan Aceh Green yang digadang-gadang oleh Irwandi (Gubernur Aceh 2007-2017) sebagai grand scenario menuju Aceh yang jauh lebih baik.

Dua hari lagi, 10 Tahun Tsunami diperingati. 26 Desember 2004-26 Desember 2014. Umbul-umbul berkibar jauh hari sebelumnya. Pada Jumat, 19 Desember 2014, Tempo.co menuliskan; Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi menuturkan konsep peringatan 10 tahun Tsunami mengangkat tiga tema besar: reflection  (renungan), appreciation (penghargaan) dan awakening (bangkit).  Poin satu dan dua bisa jadi terealisasi. Bagaimana dengan poin terakhir?

Seperti terkena kutukan. Aceh tidak move on. Padahal waktu sudah menjelang 1 dekade ditandatanganinya kesepakatan damai  GAM dengan RI, 15 Agustus 2005 – 15 Agustus 2015. Ternyata memutuskan perang mudah sekali. Tetapi mendirikan kesepakatan damai sulit luar biasa.





Rabu, 16 April 2014

Kenapa harus Kautsar, S.Hi?

Aceh Golput. Adalah strategi yang kami putuskan untuk melawan represif negara di bumi Aceh, 15 tahunlalu. Tidak akan terjadi pesta demokrasi yang jurdil dibawah todongan senjata.
Golput menjadi sebuah gerakan yang kami lakukan secara sistematis. Direncanakan dan dikerjakan jauh-jauh hari. Pekerjaan kampanye dan pengorganisiran yang tidak hanya dilakukan pada tingkat atas, tetapi juga di grassroots
Dengan cara demikian, golput dimiliki tidak hanya oleh kaum cerdik pandai, tetapi juga nyak-nyak di desa. Pendidikan politik ini disambut baik oleh rakyat Aceh. Aceh mayoritas Golput.

***

Saya mendengar banyak cerita unik selama dia melakukan gerakan klandestein. Misalnya, ketika malam berada ditempat terpencil, tidak tembus cahaya bulan dan bintang, sering sekali mereka menabrak pohon yang batangnya penuh duri dari bawah hingga kepucuknya. Ada juga larangan ketat tidak membuang sampah sembarangan. 
Konon, ada kejadian mereka membuat rendang “pura-pura”. Adalah “selop jepang” (sandal jepit) yang  dipotong seurukuran daging rendang. Dimasak menggunakan bumbu rendang. Mereka yang tak sabar menunggu, hanya tertawa geli ketika tau yang direndang bukanlah daging.

Menurut Kautsar, bagian yang paling sulit adalah menahan bersenda-gurau ketika malam tiba. Padahal malam adalah saat paling suntuk bagi mereka. Larangan ini diberlakukan karena sulitsekali mematuhi peraturan sebelumnya; tidak boleh tertawa keras selama melakukan gerakan klendestein.
Hari ini, jika kami kembali ke kampung-kampung dimana Kautsar pernah singgah dan berdakwah, mereka akan datang dan menegur.

“Peu nyo Kautsar yanguro jeh nyeh?”
“Kautsar yang awai yu kamoe boikot bayeu lampu?.”
Ternyata masyarakat mengikuti seruan dakwah Kautsar; tidak membayar iuran listrik.
 Kautsar sangat professional. Setiap agenda selalu ada Plan A, B dan C. Dia juga memposisikan semua orang sesuai dengan porsi dan kapasitasnya masing-masing.

Ketika melakukan mogok masal, kami semua anggota SMUR di kerahkan untuk mensukseskan acara tersebut. Setiap orang menerima jobdesc masing-masing. Evaluasi dilakukan hampir setiap hari. Ada atau tidak ada Kautsar di kantor, evaluasi tetap dilaksanakan.

Anggota SMUR yang dilapangan menggalang supir dan pemilik bus, L300 dan minibus. Teman-teman sebagian standby di kantor untuk mengurus arus informasi dari dan ke lapangan. Untuk memback up, Pengacara disiagakan.

Lain lagi kisah di pengungsian. Kautsar mewajibkan coordinator panitia melakukan rapat evaluasi setiap malam. Memastikan ada skedul kegiatan bagi para pengungsi. Untuk menjaga kondisi psikologis mereka.
Memantau perkembangan logistic. Berkoordinasi dengan sumber-sumber logistik. Kautsar memastikan bahwa mahasiswa hanya mendampingi saja. Semua agenda sepenuhnya dijalankan dan dikelola oleh pengungsi. Hal ini semata dilakukan agar kepemilikan kegiatan adapada mereka. Disamping memberikan mereka pengalaman mengorganisir kegiatan. Para pengungsi ini masih menjalin komunikasi dengan kami. 
Menjaga komunikasi adalah satu dari kunci keberhasilan Kautsar.

Kautsar sangat detil. Hal sederhana yang kadang luput oleh orang lain, tetapi justru menjadi perhatian khususnya. Contoh sederhana: mengingat nama orang.

Pernah, saya bersama beberapa teman diutus melakukan mogok makan di KPU, pada 1999. Ternyata dalam kondisi mogok makan, kami juga diwajibkan membangun koordinasi dengan elemen prodemokrasi yang lain. Terutama mahasiswa. Seperti mahasiswa Papua, Timor Leste, dan Maluku. Bertemu LBH, Kontras, Komnas HAM, bahkan partai politik. Kami diwajibkan mensosialisasikan kondisi aceh dan menggalang dukungan
Menjadi multitask dan atau doble burden adalah hal biasa di SMUR, dan semua kami kerjakan dengan baik. Karena prinsip kerja seperti ini dialami oleh semuanya, dan terukur hasilnya.

Kautsar selalu memantau skill anggota SMUR dan memastikan skill itu tersalurkan di SMUR. Mereka yang doyan tulis menulis mendapatkan tugas membuat media, internal dan eksternal. Media eksternal lebih kepada propaganda. Sedangkan media internal berguna untukmelakukan  konsolidasi.

Kautsar itu cepat berfikir dan cepat bertindak. Tidak sekedar cepat, tetapi buah pikirnya selalu efektif dan efisien.
Pertama kali SMUR mendorong wacana referendum, banyak yang enggan menindaklanjuti. Belakangan, refendum menjadi milik bersama.

Bagaimana cara Kautsar mentransfer ideology? Kalau pendidikan khusus dan diskusi adalah media yang lazim dipakai. Tapi Kautsar, selalu melibatkan orang dan atau kelompok lain dalam pekerjaan teknis. Akhirnya ritme kerja diikuti dan pesannya diserap dengan baik. Tidak perlu berbuih-buih melakukan rasionalisasi. Melalui metode ini, mereka faham apa yang mereka kerjakan, apa manfaatnya sekarang dan nanti. 

*** 

Sebagai kader Partai Aceh, adalah sebuah kewajiban bagi suami saya, Kautsar, S.Hi, untuk menjalankan amanah partai. Setelah menolak menjadi caleg pada 2009, akhirnya tahun lalu kami menerima kewajiban yang diberikan oleh partai; menjadi caleg.

Sebagai pengusung Golput pada Pemilu 1999, tentunya keputusan ini menimbulkan komentar diantara kawan-kawan yang masih belum bergerak dari pilihan golput. 

Pengalaman luas dalam konteks pekerjaan ekstra parlementer; Mogok Makan, Sira-Rakan, Mogok Massal Aceh,dan Golput, adalah modal dasar. Pembelajaran penting bagaimana Kautsar berhasil menjadi manajer, pemimpin, kawan, dan sekaligus sebagai pekerja yang terpercaya.

Keterbukaan Aceh hari ini adalah buah perjuangan ekstra parlementer dimasa lalu. Diperlukan kesinambungan agar rangkaian perjuangan tadi tidak hanya dikenang saja. Menjadi sia-sia.

Saya yakin, Kautsar mampu menjadi wakil rakyat yang akan memastikan Aceh berjalan lebih baik dari sekarang.

Rabu, 21 Agustus 2013

Arti orang dekat


Saya pernah mengalami bingung menghubungi seseorang yang bisa diajak jalan-jalan. Saat itu malam minggu, suntuk dirumah dan ingin jalan-jalan. Kawan yang nomor teleponnya tersimpan di seluler saya semua sudah berkeluarga dan punya anak. Otomatis sulit diajak keluar. 

Ada beberapa teman yang masih available bahkan tengah malam atau dinihari. Biasanya mereka menjadi korban kegatalan saya berkeliling kota atau pergi  ke pantai sebelum waktu sholat subuh.

Menjelang 40 tahun merasa kekurangan teman? sebenarnya tidak juga. Banyak keluarga dan teman yang siap kita jadikan korban, kalau kita mau usaha merayu mereka.

Berbeda dengan kakak ipar dan adiknya yang selalu merindukan menjadi mangsa keganasan saya mengukur jalan. Dengan senang hati mereka berdua menunggu tanggal mainnya.

Teman dekat saya juga ada beberapa orang yang demikian. Ada yang kalau mau jalan-jalan harus membawa serta anaknya dan menentukan waktu yang cocok. Kawan saya yang ini sering menjadi pilihan terakhir, kecuali mendesak untuk urusan penting, meng-gos :).

Ipar saya yang mantan karib saya, doyan jalan-jalan dan makan, makanya kami cocok. Pergi ke rumah mertua dan mengeruk makanan yang ada :). Rumah adik ipar ini juga sering menjadi markas jomblowan dan jomblowati. Sekedar menikmati kopi, mie rebus atau masak yang lebih serius.

Lucunya kalau kumpul hampir rata-rata memanggil saya kakak. Ini akibat terlalu banyak bergaul dengan anak muda :). 

Keluarga dan sahabat, mereka orang yang selalu ada untuk kita. Pernahkah menghitung berapa orang  yang 24 jam siap sedia untuk kita? Ketika kita kecil, orang tua, abang, adik, kakak, yang bisa seperti itu. Seiring pergaulan, bertambahlah orang yang bisa kita andalkan.

Wajar tidak kalau kita menghitung kehebatan dengan menjadikan orang yang 24 jam sedia sebagai indikatornya. 

Suami saya yang sedang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif mungkin sudah merasakan pentingnya orang semacam itu. Mereka yang menolong tanpa pamrih dan lintas waktu serta tempat. Tidak terkira bagaimana beruntungnya kami memiliki orang dekat sedemikian. 

Tidak ada orang yang sempurna. TIdak semua orang senang berteman dengan kita. Kita tidak mungkin memuaskan hati semua orang. Menjadi diri sendiri dan apa adanya lebih nyaman. Menjadi diri sendiri dan menyenangkan orang lain, mungkin lebih baik.

Rabu, 17 April 2013

Melepas Tukik untuk kembali, nanti.

Dua minggu lalu, saya, Rini, Nurul, Desi, Ria, Sri, Kanda dan Nola melepas tukik ke pantai Babah Dua, Lampu Uk, Banda Aceh. pelepasan kami ini cukup meriah dan "well prepared" dibandingkan dengan acara pelepasan tahun lalu.

Sungguh senang tidak terkira melihat tukik itu begitu semangat mendorong badan mungilnya, merangkak menggapai laut. pengunjung bersorak kegirangan. tidak sedikit yang mengambil foto, mengabadikan sebuah cerita dalam gambar, meneruskannya kepada yang lain.

Serombongan anak usia taman kanak-kanak, mengenakan seragam kaus merah berlarian dikerumunan berteriak girang sekaligus geli. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, semoga saja mereka mengerti bahwa mereka menjadi saksi arti kebebasan dan menghadapi tantangan. Kebebasan memang selalu bergandengan tangan dengan tantangan.

Kanda dan Naula, keponakan kecil ku yang baru saja masuk sekolah dasar, meninggalkan jadwal mengaji di Masjid untuk menyaksikan pelepasan tukik. Naula senang sekali ketika disuruh membawa kotak aqua, berkeliling meminta sumbangan. Kanda memperhatikan, senang dan malu.

Semua orang berbahagia. Tidak ada yang cemberut, kalaupun ada mungkin itu saya. Beberapa kali saya berteriak gemas melihat pengunjung yang menyeberang tali batas menonton. memegang tukik untuk difoto. akhirnya ketika ombak menghempas kepantai, tukik yang limbung berserakan harus menerima nasib; lolos atau terpijak kaki pengunjung yang tidak taat peraturan.

Ceritanya dimulai dari beberapa tahun kebelakang, mungkin 5 tahun yang lalu. Saya dan beberapa kawan sesama gank Lampu Uk sangat "pantai-maniak". untung sekali lokasi tempat tinggal kami hanya 45 menit dari pantai. jadi dalam seminggu kami bisa beberapa kali bolak balik ke pantai. Membersihkan pantai. membeli keranjang sampah. Hampir setiap minggu seperti itu. Tapi sayang, satu-satu kami berpindah tempat tinggal. kegiatan terhenti.

Dalam kurun waktu kesepian tanpa kegiatan dipantai, saya melihat telur penyu dijual bebas. Iseng, mengambil gambarnya dan menyebarkan lewat jejaring sosial. Beberapa kali dalam sebulan saya memperhatikan maraknya penjualan telur penyu. saya mulai mewawancarai pedagang dan mendapatkan cerita lokasi didapatkannya telur tersebut, salah satunya di Lampu Uk.

Pertemangan dengan penjual disepanjang pantai Lampu Uk sangat menguntungkan. Ketika disampaikan rencana mengintip penyu bertelur, semua setuju. Ketika disampaikan rencanan menetaskan telur penyu, hampir semua mereka tidak sepakat.

"Penyu bertelur ditempat ini, dia memilih untuk berbagi dengan kita. kenapa kita menolak rezeki?"

Demikian menurut para pedagang. Saya tidak kehabisan akal, kami membeli telur tersebut dengan harga 4 kali lipat harga pasar, dnegan syarat; tidak boleh dipindahkan sampai menetas.

Sampai beberapa lama sejak itu, saya, suami dan beberapa teman mulai piket malam menunggu mendaratnya penyu.Cerita menjaga penyu ini akan saya tulis pada kesempatan yang lain. begitu banyak keasyikan kami dapat. mulai dari tidak boleh ribut, tidka boleh menyalakan senter dan sebagainya. belum lagi hawa dan angin dingin pantai yang menusuk.

 Sayangnya setiap kali saya ikut, saya selalu gagal bertemu penyu. sampai habis satumusim penyu mendarat, kami tidak berhasil menemukan satu butir telur penyupun. padahal telur dipasar masih juga banyak. Lain dengan teman-teman yang selalu sukses bertemu penyu. malah satu kali mereka sempat berfoto bersama penyu belimbing yang mendarat (dalam hal ini saya tidak setuju..ngapain difoto..)

Tapi semua itu sudah lewat, kalau sekarang melihat betapa banyak orang baru yang bersolidaritas terhadap penyu, saya senang sekali. apalagi anak kecil ini yang pasti merekam bahwa penyu itu harus dilindungi.


Minggu, 19 Februari 2012

Jak U Bineh Glee.

Ah! Putus! sendal jepit putih bertali biru itu tertinggal 1 langkah di belakang. Menjalar dingin di kaki kiriku, beradu kulit dengan lumpur sawah di Bineh Glee. Apa daya, terpaksa kupungut sendal tadi dan ku jinjing saja. Kembali berjalan di pematang sawah menuju kebun kelapa yang sudah didepan mata. Sebenarnya tadi sudah diingatkan untuk memakai sendal yang lain, tapi karena malas mencari kebelakang rumah, jadilah kupakai sendal jepit ini yang kebetulan teronggok nganggur dimuka pintu. kadang ada benar nasihat orang tua "kualat kalau tidak mau dengar". Sekarang, malasnya dibalas dengan geli dingin karena kaki melangkah diatas tanah becek sawah.



Tersenyum aku setelah menghela nafas. Sampai juga. Sebelum masuk kekebun aku harus melewati aliran irigasi, ada tangga batang kelapa diantara pematang sawah dan kebunku. kebun orang tuaku tepatnya. ada pakwa Yan sedang menjalin helaian daun rumbia dan seulas bambu. dia memang pengrajin atap daun rumbia. seingatku, inilah salah satu mata pencahariannya selain bertani. disampingnya ada kursi bambu. "kiban pakwa? banyak jadi?" "panena iya.. lawetnyoe hanjeut lhee keubut.. ka abeh matee bak rumbia." jemarinya lincah menusukkan benang bambu. aroma getah daun dan batang bambunya sedap sekali. Jemari kekar pakwa Yan cekatan sekali, sebentar saja sudah hampir selesai. Benar juga yang dikatakan pakwa. sudah lama sekali aku tidak menerima oleh-oleh rumbia manis dari meulaboh. apa nasib pohon rumbia disana juga saa dengan rumbia di kampung ku ini. banyak ditebang. dulu kalau beli rumbia, seribu bisa dapat 20 buah. kalau sekarang? wah..sudah lama tidak beli karena terakhir aku tanya 1000 dikasih 3 buah saja. tidak lagi bisa seperti dulu, menjebak teman yang tidak kenal dengan "salak aceh" ini bisa sembarangan. karena murah.



Kudengarkan pakwa yan bercerita, bagaimana sulitnya mendapatkan daun rumbia yang panjang dan lebar. suasana sekarang tidak ramah lagi dengan pohon-pohon. daun sekarang cepat sobek kalau dijahit (menganyam daun rumbia dengan benang bambu). hawa sekarang panas sekali. tapi kalau sudah hujan juga tidak putus-putus. buah rumbia juga tidak sama banyak seperti dulu. rasanya juga tidak manis seperti dulu. sebentar saja sudah kuning dia. ukurannya juga sudah kecil. tidak lemak lagi. tidak mengkilat lagi. tidak... heii!! husshh!! pak wa yan tidak meneruskan kalimatnya. dia berlari mengejar segerombolan kambing yang berusaha menerobos kedalam kebun. aku yakin itu kambing tetangga. kalau kambingnya pasti tidak dikejar begitu. pakwa yan ini abang sepupu ibuku. dia tetangga kebun kami. tapi juga sering memanfaatkan kebun kami untuk ditanami sayuran muda. anaknya 4. 3 orang perempuan dan satu orang laki-laki. istrinya belum lama meninggal. kata orang kampung penyakit kiriman. sebelum meninggal aku menjenguk ke rumah sakit, kulihat sekujur tubuh melepuh dan menghitam. seperti orang keracunan obat dan gagal ginjal. ntah lah apa penyebabnya, rumah sakitpun tidak pernah memberikan informasi ang jelas apa penyebabnya.



memilih buah kelapa yang pas rasanya dan kelembutan dagingnya bukan masalah bagiku. sebagai penikmat kelapa sejak balita, aku sudah mahir membedakan mana kelapa muda sekali yang isinya masih mirip lendir dan airnya tidak terlalu manis, atau kelapa yang dagingnya mirip "geulenyung kameng" dan airnya sudah lebih manis, dan kelapa ang nyaris dagingnya bersantan dan airnya sangat manis. kali ini aku mau yang terakhir, perutku kenyang, jadi tidak terlalu penting dagingnya. yang penting airnya. semua kukerjakan sendiri, memetik, membuang sedikit kulitnya agar bisa kuminum airnya. kubelah dan kutinggalkan begitu saja dagingnya. aku tau akan ada yang datang menghampiri. benar saja, belum bangun dari jongkok, sudah datang segerombolan angsa mematuk daging kelapa. kembali aku duduk di kursi bambu, menatap aliran air irigasi yang mulai kering. banyak rumput kiriman. sepertinya diujung sana ada yang membersihkan sawahnya dan mencampakkan sampah ke irigasi. sudah biasa seperti itu. waktu kecil dulu, hampir tiap hari mandi disini, kadang-kadang meminjam ban pakwa yan. berjalan ke pintu irigasi. duduk diatas ban dan mengalir sambil menikmati dorongan air sampai ke jembatan didepan kebun. berhenti, naik kedarat, dan mengulangi lagi sampai beberapa kali. kalau sedang tidak mujur, sering terkena duri sampah petani yang dibuang ke irigasi. atau kotoran manusia yang suka buang hajat diirigasi. kalau busa pupuk jangan ditanya lagi, selalu ada.



30 tahun lebih mengaku memiliki kampung ini. aku tidak melihat ada perubahan berarti disini. kecuali jalan lorong depan rumahku sudha di cor. beberapa rumah kayu sudah berubah menjadi beton. sudah ada listrik. dan tiap rumah sudah punya televisi. kalau dulu, rumah nenek selalu mirip bioskop dimalam minggu. ada 20 orng lebih datang menonton film akhir pekan. ribut sekali. tapi nenek suka, karena hanya mereka yang selalu meramaikan rumah nenek. Enam malam selebihnya, sepi. apa lagi perubahan dikampungku? kecuali banyak pendatang yang masuk karena membeli tanah orang kampung. atau warung kopi yang bertambah karena sudah ada parabola yang artinya selalu ada tanding bola. sudah ada sekitar 10 warung kopi di kampungku. Ada lagi yang berubah, banyak warga kampung yang ditangkap karena kasus narkoba. ada yang dipenjara, ada yang dilepaskan dengan uang.



Lain dari itu sama saja, bang sop anak mak yat didepan rumah, setiap lepas subuh sudah berangkat kekebun di Glee. tapi tidak ada yang berubah kecuali berdiri sebuah rumah. Seri sudah jadi PNS, satu-satunya di lorongku. dia jadi guru SMP. Ayu bekerja di Banda Aceh, nasibnya juga tidak jauh berbeda dengan ku, hanya sesekali saja pulang kekampung. Adik AYu, si Meri berjualan Nasi. Begitu juga dengan Cek Ru, mamaknya Sri, dia juga berjualan nasi. kemudian kak syah juga berjualan nasi. si Tati buka warung. Nah..ini yang banyak berubah, di Meunasah Gadong banyak sekali perempuan yang bekerja keluar dari rumah sekarang. Baguslah.



Pakwa Yan tidak balik lagi, mungkin sudha masuk kerumah. Aku memilih beberapa butir kelapa untuk dibawa pulang, dan kembali melewati jembatan kayu, kemudian turun kepematang sawah, dan terus pulang kerumah.



"Tuh kan..kenapa sendalnya ditenteng begitu?" ibuku menyambut dipintu depan. -)

Surat Sayang

tanpa bermaksud apapun, imel ini kutulis di sebuah rumah sakit sederhada di aceh bagian utara. hari kedua menemani bapak dalam ujiannya.



keraguan lebih kuat menjegal keinginanku untuk menuliskan surat sederhana ini, surat sayang untuk mamak dan bapak. mamak sudah 65tahunan. bapak 75tahunan.

mamakku lucu, berkeinginan kuat dan menurut pada suami. sangat sayang pada anaknya. mengingat mamak, mengingat pasar tempat aku besar. mamak pedagang baju. kadang kala mamak membawa baju ke kampung. meninggalkan aku, abangku dan bapak di jakarta. mamak tidak segan menjunjung kain dan berbasuh peluh di pasar tanah abang ketika berbelanja.



piknikku berbeda dengan orang lain yang mengingat masa kecil dengan main ke Ancol, bioskop bahkan mall. bukannya tak pernah, kalau ada rejeki mamak pasti ajak kami, aplagi kalau ada gratisan hehe. seingat aku beberapa kali kami ikut rombongan kantor bapak yang piknik ke cibodas. ntah kenapa bapak yang seorang guru, selalu memilih cibodas tempat refresingnya. murah meriah kali ya untuk ukuran guru? . piknik yang aku jalani adalah menemani mamak berbelanja barnag dagangan ke tanah abang, kemudian singgal di mesjid yang berlokasi di puncak pasar grosir itu. nah..aku akan panik berbelanja jajanan, mulai dari lontong padang, ketupat lemak, lemang tapai, lopis..perutku tidak akan penuh.



kalau hujan seidkit, mamak pasti mengijinkan aku tinggal dirumah, kalau aku bilang hangat badan, mamak pasti menyuruh aku tinggal dirumah tanpa bersekolah.

mamak rela naik bis dari jakarta ke medan selama 3 hari 3 malam untuk mendukung keluarga kami. bukan berarti gaji bapak yang guru tidak cukup. sungguh cukup. tapi mamak ingin punya rumah sendiri tanpa merongrong suaminya. ingin membiayai ibunya-nenekku- tanpa merongrong suaminya. ingin menabung, ingin banyak hal yang dia yakin harus diusahakan sendiri tanpa memaksa suaminya yang seorang guru sma memenuhi segala keinginannya.



mamak tidak segan berpindah kesatu hari pekan kehari pekan yang lain. menggelar dagangannya. kalau dagangan laku dia segerapulang kejakarta dan membuka toko lagi di pasar inpres dekat sekolah ku.



tidak lama setelah menikah, bapak memboyong mamak ke jakarta. lahir kakakkupertama, temas miati namanya. dia meninggal ketika kecil. kabarnya sakit panas, kabarnya selang infusnya cobot tersenggol nenek2. sampai sekarang kuburnya ntah dimana berada. tergusur terus oleh bangunan kota jakarta. taun 72 lahir abangku. anak kesayangan ibuku. laki-laki yang sangat menurut pada ibunya. bahkan kalau mamak melakukan kesalahan, maka abang tidak akan segan meminta maaf. tidak pernah sekalipun terdengar kata kasar dari mulutnya kepada mamak. begitu juga kepada bapak.



selang beberapa tahun lahir aku. mamak dan bapak memberikan kasih sayang berlebih pada kami. kami sayang orang tua kami. kami bangga pada mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya. tidak ada yang sempurna. hanya kasih sayang kami satu sama lain yang sempurna sekali. alhamdulillah.



situasi berubah ketika mamak beranjak tua. mulai sakit. terdeteksi mengidap diabetes. sempat beberapakali drop dan koma. sempat tergeletak ditempat tidur dan tidak sadar. bersyukur orang tua punya menantu yang juga sangat sayang pada mereka. suamiku dan istri abangku. kadang aku berfikir, mereka berdua sama sekali bukan orang lain yang baru 9 tahun lalu bertemu. sepertinya memang sudah lama bersama. indah sekali. semoga Allah kekalkan keindahan ini. Amin.

mamak mulai pelupa, mulai mudah sedih dan marah, banyak bertanya dan mengeluarkan perkataan yan gdiulang-ulang. akibantya sering kena marah. kadang tak tega, tapi apa mau dikata...kami manusia saja yang sering khilaf. beberapa kali keluar masuk rumah sakit. bobot badannya terus turun nyaris setengah dari yang dulu. dalam kondisi pemulihannya selama 5 tahun ini, tiba2 bapak yang sehat saja mengalami cobaan juga, terkena stroke. kami menerimanya dengan ikhlas dan lapang hati. akibat stroke mudah kejang, emosi tidak stabil. apalaig bapak tidak lagi bisa bicara seperti dulu.

...bersambung *bapak terbangun mau...

Manajemen Pantat Kuali

Cek Yu cekatan membalurkan minyak dan tepung di pantat kuali. sesekali dia memberi intruksi kepada Kak Rabu untuk menukar posisi sangku nasi pada arah berbeda, "supaya rata ya, jadi gak ada yang gosong dan ilang kilatnya"

Besok, 13 11 2011, Naldi anak tertua Kak Ratna akan di sunat. Jadi, sebagai tetangga yang baik aku berkunjung kesana hari ini 12 11 2011, sekedar membantu mengupas bawang dan -tentunya- makan makanan yang disuguhkan oleh empunya rumah kepada tamu. Tradisi menjamu "pekerja" yang berasal dari lingkungan keluarga dan sekitar rumah ketika persiapan kenduri memang unik di Aceh. Tradisi ini jug amenjadi incaran beberapa orang, yang membuat dia semangat membantu pemilik hajat bersiap-siap. Bahkan, tidak segan mereka menimbang, mengira , tuan rumah kali ini akan menyuguhkan apa pada mereka. yang pasti menunya tidak jauh dari Teh dan Kopi panas, 1 macam makanan berat dan beberapa macam kue. kebetulan tadi, Kak Ratna menyuguhkan miehun goreng dan agar-agar karamel lemak. Kalau nasi dan lauk-pauk jangan ditanya, itu sudah pasti ada. Jadi..-lucunya- pekerja yang membantu menyiapkan hajatan, utamanya makanan, juga memasak makanan khusus untuk mengganjal perut pekerja yang membantu memasak untuk hajatan -D

Jadilah aku mendengarkan percakapan bagaimana memperlakukan pantat sangku dan kuali agar tidak gosong dan tetap mengkilat. ternyata lain "keyakinan dan pemahaman" punya praktek yang berbeda tentang bahan yang dipakai dan cara yang digunakan. Sebelumnya aku hanya tau 2 bahan saja, membalurkan minyak makan ke seluruh pantat dan tubuh kuali atau membalurkan sabun colek. tadilah baru tau ternyata ada yang mutakhir, minyak kelapa dan tepung -apasaja-. kalau menurut Cek Yu, sabun colek mencegah gosong memang, tetapi tidak bisa mempertahankan kilat. kalau minyak kelapa, mempertahankan kilat didaerah yang tidak gosong -)

Menarik bukan?

Kalau dikampungku yang lain, di Bintang, kenduri seperti ini pasti makin semarak dengan kehadiran sekelompok penghibur yang memanfaatkan waktu rehatnya dengan bernyanyi, berpantun, didong, joget dan memukul "canang" -alat musik dari dataran tinggi gayo-.

jadi, kalau tidak ikut partisipasi, bukan saja kehilangan saat-saat menyenangkan, tapi juga blacklist sebagai rumah yang tidak akan mendapatkan pertolongan ketika kenduri.

Senin, 31 Oktober 2011

Bercerita tentang ngopi di Aceh, bagi saya, seorang perempuan.

Berserakan potongan cerita di kepala ini kalau membayangkan aroma lemaknya kopi. belum selesai satu sketsa terbayang, sudah muncul sketsa lain lagi, loncat loncat dari satu waktu kewaktu lain. sulit memilih satu diantaranya, saat ngopi yg tidak menyenangkan. semuanya ..semuanya..selalu menyenangkan.



Jaman kuliah, medio 90an, biasanya ngopi dengan teman-teman kampus. bersama abang dan adek leting. cuma ada 1 tujuan ngopi, solong. biasanya kita "menjajah" meja bundar yang letaknya di satu kamar penyimpanan rokok dan roti. kamar itu punya lemari besar. hanya ada 1 meja. kalau sekarnag kita ke warung kopi solong, tidak akan melihat kamar itu. sudah lenyap menjadi korban renovasi.



cerita lucu mengalir di atas meja, saling meledek, kesal, dan pulang dengan sisa tawa.



menuju ujung 90an, mulai pergi dengan teman yang berbeda lagi, teman-teman dari Leuser. pilihan tempat bertambah satu lagi; Atlanta. sedikit berbeda dengan SOlong, Atlanta dipenuhi mahasiswa, lay out sederhana dan warung sederhana. letak warungnya di tengah tanah yang punya banyak pohon rindang. disini tempat kami biasa duduk adalah salah satu meja panjang dengan kursi kayu yang panjang juga. pemandangan kami leluasa ke penjuru lahan dan warung kopi. lirik sana sini.



beda lagi dengan cerita di akhir periode 90an. mulai kenal dengan SMUR. mulai kenal dengan diskusi hingga larut malam yang biasanya dilanjutkan di warung kopi. mereka yang membantu kami menyediakan kopi tidak pernah bertanya kenapa aku, seorang perempuan masih ngopi hingga larut malam. seingatku pengunjung pun tidak pernah memberikan tatapan penuh tanya kearahku, apalgi mengeluarkan sebaris pertanyaan tentang keberadaanku di warung kopi tengah malam. mungkin karena kami sama-sama korban nikmatnya kopi.



ketika mulai kerja, kebiasaan ngopi tidak pernah hilang. warung kopi solong terus berbenah, Atlanta ludes terbakar. ada satu warung kopi yang samar ada dalam ingatan, cek wan. tapi ntah kapan tepatnya kami rajin kesini,. cuma alasan berkunjung saja yang aku ingat. harganya murah dibandingkan solong. ada juga warung kopi Romance, di jalan P Nyak Makam. mungkin bisa di bilang kami gerombolan anak SMUR yang pertama kali mencicipi kopi disitu, karena letaknya tidak jauh dari sekretariat kami.



dulu, kalau kehilangan motor, jangan heran kalau kita mendapati motor itu di warung kopi. pasti seorang kawan tanpa permisi membawanya. tapi juga musti hati-hati kalau parkir motor di warung kopi, awal 2000an sering sekali kita dengar teman kehilangan motor di warung kopi dan tidak pernah kembali.



para pekerja di warung kopi biasanya hapal dengan langganan yang setia berkunjung. mereka hanya datang menghampiri dan memastikan pikirannya tepat sama dengan pikiran kita.



Sebagai penikmat kopi dan sekaligus warung kopinya, aku belum mampu mengingat momen dimana keperempuananku di gugat di warung kopi. apakah ketika aku datang selepas subuh, siang, sore bahkan larut malam sekalipun. apakah aku datang sendri, berdua atau bergerombolan sekalipun.



-----------------to be continues yah...ngantuk berat hehe----

Mengintip Lafal Transaksi Lembu di Aceh

http://theglobejournal.com/kategori/sosial/mengintip-lafal-transaksi-lembu-di-aceh.php

Arabiyani [Pengusaha Buku Langka di Banda Aceh] | Sabtu, 29 Oktober 2011
Bireuen - "Bismillahirrahmanirrahim, Loen peublo leumo loen keu gata, leumo mirah raya tumbon, leumo keu droen , peng keu ulon" "Alhamdulillah, loen teuriomong leumo droen, peng keu droen".

Jabatan tangan selesai, lega rasanya. Mantan pemilik sapi berpesan : lembu ini saya rawat sendiri dengan tangan saya, saya kasih makan dengan rasa sayang. mudah-mudahan bermanfaat apalagi untuk qurban. Terharu sekali, mendengar kata lirih sosok tua berkacamata itu. teringat tawar menawar tadi. lembu tak dilepas dari Rp 8.850.000 apapun yang terjadi.

Demikian sepintas seruput perasaan yang mengalir dalam diri ini ketika transaksi berhasil. Meluruhkan perasaan bingung, deg degan, takut dan sebagainya. Maklum, baru kali ini masuk ke pasar hewan di Bireuen. Ribuan hewan berjejer, sapi pada barisan sendiri, begitu juga kerbau, kambing dan biri-biri, semua punya barisan masing-masing. Dipukul-pukul untuk memastikan dagingnya banyak. di putar kesana kemari, dihalau hilir mudik. Aroma kotoran yang menguap aku nikmati saja. toh jarang-jarang suasana seperti ini kita temukan.

Agen-agen tidak kalah sibuk, berjalan kesana sini, merayu pembeli agar memilih lembu tunjukkanya. Dengan harapan ada sedikit lembaran rupiah yang mengalir ke koceknya.

Pertama tiba, penulis, Bang Hasan, Lefa, berkeliling dulu. Tak disangka kami bertemu banyak tetangga di sekitar rumah yang menjual lembu/sapi . Ada juga Si Agam agen lembu yang sigap membantu. Kami harus sangat hati-hati, tak jarang lembu mengamuk dan menyeruduk. Belum lagi keluar masuk truk ke areal parkir lembu. Tak sadar, hanya aku dan Lefa yang perempuan. Selebihnya laki-laki semua. Beberapa putaran, akhirnya kami mendapat intruksi untuk berteduh di salah satu warung kopi kagetan. "Harga lembu sekarang masih mahal, nanti saja setelah makan nasi siang kita transaksinya. Itu pasti sudah di turunkan karena khawatir tidak laku. Apalagi ke depan tidak ada lagi peukan besar seperti ini, " kata Bang Hasan. Penulis dan Lefa menurut dan meletakkan lelah di atas kursi kayu warung Kak Er. salah satu penjual nasi dan minuman yang tetangga kami juga.

"Yang datang kesini bukan cuma orang Bireuen, orangBanda juga ramai seperti mister itu...saya sering lihat dia" kata Kak Er menunjuk seorang berperawakan tinggi besar, putih, berambut pirang. Mereka orang Turki yang ingin membeli hewan qurban. Ramai juga orang dari daerah lain sekitar seperti Lhokseumawe, Panton Labu dan Pidie.
"Kalau sapi siang memang lebih murah, karena kalau terpaksa dibawa pulang ongkosnya juga mahal. apalagi kalau yang terpaksa jalan kaki, bisa larut malam sampai di rumah, jangan lupa minta surat nanti ya, surat jual beli dan harga tiket keluar Rp 5.000, " ingat Kak Er. Hah..mirip jual beli perabot juga rupanya,

Satu hal lagi yang menakutkan, karena harus membawa uang cash untuk 4 ekor sapi. Padahal penulis termasuk orang yang anti membaca cash. jadilah sempurna kekhawatiran aku sejak berangkat dari rumah, di perjalanan dan ketika berkeliling.

Setelah sukses bertransaksi pertama kali, rasa percaya diri pun meningkat, apalagi mulai nampak satu dua ibu-ibu mencari hewan qurban. transaksi ke 2 , 3 dan 4 juga demikian. Alhamdulillah, uang di tas berkurang, berganti dengan 4 ekor sapi qurban yang luar biasa sehat dan bagus penampilannya. semoga ada berkah untuk Ama Ine Renggali, orang tua, Bang Hasan dan Lefa yang sudah membantu dalam sengatan matahari dan serudukan sapi.

Jumat, 21 Oktober 2011

21 11 2011 @ Bireuen.

@ 07.05 gowes seli melewati jalan berbatu di kampung Meunasah Tgk Di Gadong. dari rumah ke ujong gampong, lanjut ke Bineh Glee. Mampir kerumah Pak Wa Yan, ngobrol sepatah dua patah dengan Kak Nidar, Kak Pit dan Kak Yet. Mata memandang pilu kearah beberapa batang pohon kelapa hibrida yang keberatan sama buah. Terlalu pagi untuk buah2 itu. tapi aku janji balik lagi nanti sore. Lanjut lagi gowes melewati pinggir irigasi, jalan aspal, sampai deh di rumah. haaa..lapar lagi :) *sebelumnya sudah menyumpal perut dengan 2 tangkup roti panggang selai stroberi + setengah buah mangga golek.

@7.30 Apa Ni, tukang yang akan memperbaiki kamar mandi datang. Setelah berdiskusi seputar rencana perbaikan kamar mandi tengah, tentunya dengan gaya ala arsitek handal :), aku menyerahkan sejumlah uang untuk membeli perkakas. memang rencananya hari ini kamar mandi tengah akan sedikit mendapat penyegaran. aku biasanya agak2 malas menggunakan kamar mandi itu, sampai2 harus kabur ke kamar mandi belakang kalau mau mandi dan buang air besar. sedikit cemas berharap semoga kesuksesan kemarin berulang lagi hari ini.

@08.00 mamak pulang belanja di warung dekat rumah membawa sayur, beberapa ekor ikan, dan..boi tepiung beras! whuaah sudah lama gak makan cemilan ini. enak lezat dan mengenyangkan. *makasih mak boy hehe

--to be continue

baiturrahman

baiturrahman

My "Ndai"

My "Ndai"
sampe nungging - nungging deh Ndai....

My Baby

My Baby
si itam; sudah berubah menjadi : biru bukan hijaupun tidak...:-(

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pilihan menjadi santapan setiap orang. pilihan tidak bisa di hindari. siapa yang menentukan pilihan? pastinya kita sendiri. jangan pernah menyalahkan aktor lain atas ketidak layakan. bisa jadi kita berkonstribusi terhadap status itu. apakah kemudian pilihan harus disalahkan? pilihan hadir bagi mereka yang tidak yakin.

Hadih Maja ;

"Adat bak Poe Teu Meurehom, Hukum bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana."